Pelan tapi Pasti Memenangkan Perlombaan
Di sebuah kota yang indah dan damai, tinggallah dua sahabat, Abdullah dan Khalid. Mereka bersekolah di sekolah yang sama dan duduk di kelas yang sama, tetapi cara belajar mereka sangat berbeda.
Abdullah anak yang rajin dan sabar. Ia tidak terlalu cepat menangkap pelajaran, tetapi ia punya satu kelebihan besar: ia tidak pernah menunda pekerjaannya sampai besok. Apa pun yang harus ia kerjakan hari itu, ia selesaikan hari itu juga. Walaupun belajarnya hanya sedikit, ia belajar setiap hari. Prinsipnya adalah: "Pelan-pelan, tapi pasti!"
Sebaliknya, Khalid sangat cerdas dan tangkas. Pelajaran apa pun di sekolah cepat sekali masuk ke kepalanya. Apa pun yang diajarkan guru, Khalid bisa memahaminya dalam beberapa menit. Tetapi Khalid punya satu kekurangan besar: ia pemalas. Ia suka menunda-nunda segala sesuatu.
Setiap kali Abdullah berkata, "Khalid, ayo kita belajar bersama untuk ujian sore ini. Materinya banyak sekali."
Khalid akan tertawa dan menjawab, "Aduh, Abdullah, kamu ini khawatir tanpa alasan! Ujiannya masih dua bulan lagi. Aku bisa menyelesaikan semua materi hanya dalam dua hari. Silakan saja kamu buang-buang waktu. Aku mau bermain dan bersantai."
Abdullah hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya, lalu dengan tenang melanjutkan persiapannya. Setiap hari ia menyelesaikan satu bab, membuat catatan, dan mengulang kembali pelajarannya.
Waktu berlalu begitu cepat, dan tanpa terasa ujian akhir tahun pun tiba.
Dua hari sebelum ujian, barulah Khalid membuka buku-bukunya. Tetapi ketika ia melihat materi setiap mata pelajaran, hatinya ciut. Materinya begitu banyak sehingga mustahil diselesaikan dalam dua hari. Ia begadang di malam hari untuk belajar, tetapi pikirannya sudah lelah dan tidak ada yang masuk ke kepala. Karena takut dan panik, ia bahkan mulai lupa pelajaran-pelajaran yang penting.
Sementara itu, Abdullah sangat tenang. Ia sudah menyelesaikan semua materinya tepat waktu, dan sekarang ia hanya mengulang pelajaran tanpa rasa khawatir. Ia tidur lebih awal dan berangkat ke sekolah keesokan paginya dengan badan segar.
Hari ujian pun tiba. Begitu menerima lembar soal, Abdullah dengan tenang menuliskan jawaban terbaik untuk semua pertanyaan. Sedangkan Khalid hanya duduk cemas sambil menatap kertas ujiannya. Karena malas, ia belum mempelajari semua materi, dan banyak soal yang sama sekali belum pernah ia pelajari. Ia menulis jawaban yang setengah-setengah, lalu keluar dari kelas dengan sedih.
Beberapa hari kemudian, hasil ujian diumumkan, dan Abdullah meraih juara pertama di kelasnya. Semua orang memuji kerja kerasnya. Khalid berdiri di sana dengan malu, memandangi nilainya yang rendah.
Khalid menghampiri Abdullah, menggenggam tangannya, dan berkata, "Abdullah, hari ini aku mengerti bahwa pintar saja tidak cukup. Aku tertinggal karena malas dan suka menunda-nunda. Kamu sudah mengajariku bahwa orang yang bekerja tepat waktu dan tidak menyerah pada rasa malas, dialah yang benar-benar berhasil."
Abdullah memeluk sahabatnya dan berkata, "Tidak apa-apa, Khalid! Mulai sekarang, ingatlah..."
Kebiasaan berusaha dengan tekun dan mengerjakan sesuatu tepat waktu selalu mengalahkan rasa malas dan kebiasaan menunda.
Mari mengobrol bersama
- Khalid jauh lebih cepat belajar daripada Abdullah. Mengapa Abdullah tetap menjadi juara pertama?
- Apa yang selalu Khalid katakan pada dirinya sendiri setiap kali Abdullah mengajaknya belajar bersama?
- Adakah sesuatu yang selama ini kamu tunda-tunda? Bagian kecil apa yang bisa kamu kerjakan hari ini?