Atfal Compass
HonestyAges 4–8

Pensil yang Ditemukan

Saat jam istirahat hampir selesai, Abdullah melihat sesuatu yang berkilau di bawah sebuah meja. Ia membungkuk dan memungutnya. Ternyata sebuah pensil, tetapi bukan pensil biasa. Pensil itu berwarna biru dan emas, dengan roket kecil di ujungnya yang bisa berputar kalau ditiup.

"Wah," bisik Abdullah. "Tidak ada yang melihat. Aku bisa memasukkannya ke dalam tasku."

Ia menggenggam pensil itu erat-erat. Jantungnya berdebar kencang. Lalu ia teringat apa yang selalu dikatakan ibunya: "Allah melihat kita, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat."

Abdullah melihat ke sekeliling kelas. Di bagian belakang, Bilal sedang mencari-cari di dalam tasnya, lalu di lantai, lalu di dalam tasnya lagi. Matanya berlinang air mata.

Abdullah berjalan pelan menghampirinya. "Bilal, apakah ini punyamu?"

Wajah Bilal langsung cerah seperti matahari. "Ini hadiah dari kakekku! Terima kasih, terima kasih!"

Abdullah kembali ke tempat duduknya. Pensil roket itu tidak lagi bersamanya, tetapi di dalam hatinya ia merasakan sesuatu yang jauh lebih baik: ringan, hangat, dan bahagia. Sore itu ia menceritakan semuanya kepada ibunya, dan ibunya memeluknya sambil berkata, "Perasaan itulah hadiah dari kejujuran."

Apa yang bukan milik kita, kita kembalikan, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Mari mengobrol bersama

  1. Mengapa jantung Abdullah berdebar kencang ketika ia memegang pensil itu?
  2. Menurutmu, bagaimana perasaan Bilal sebelum dan sesudahnya?
  3. Apa yang akan kamu lakukan kalau menemukan sesuatu yang bukan milikmu?

More short stories →