Tangan-Tangan Penolong
Abdullah dan Khalid sedang berlomba lari mengelilingi taman ketika mereka mendengar suara tangisan. Umar kecil tersandung akar pohon dan sedang terduduk di rumput sambil memegangi lututnya.
"Kalau kita berhenti, kita bisa kalah lomba," kata Khalid.
Abdullah memandang Umar, lalu memandang Khalid. "Lombanya bisa menunggu," katanya.
Mereka berlari menghampiri Umar. Abdullah membantunya berdiri, dan Khalid memungut botol minumnya yang terjatuh. Mereka menuntun Umar pelan-pelan menuju ibunya, yang sedang duduk di bangku taman.
"Jazakallah khairan, Nak," kata ibu Umar. "Hati kalian baik sekali."
Khalid tersenyum lebar. "Tahu tidak, Abdullah? Rasanya lebih senang daripada menang lomba."
"Dan Allah mencintai orang-orang yang suka menolong," kata Abdullah. "Jadi sebenarnya, kita berdua sama-sama menang."
Berhenti sejenak untuk menolong orang lain selalu merupakan pilihan yang menang.
Mari mengobrol bersama
- Mengapa awalnya Khalid tidak mau berhenti?
- Menurutmu, bagaimana perasaan Umar ketika kedua anak itu datang menolongnya?
- Bagaimana caramu menjadi penolong di rumah atau di sekolah?